
IDEALITA.ID: Pemerintah pusat resmi mengubah wajah Program Adipura. Kini, penghargaan kebersihan kota ini bukan lagi ajang seremonial tahunan, melainkan instrumen keras untuk mengukur sejauh mana daerah serius membenahi sistem pengelolaan sampah dan lingkungannya.
Hal ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Nasional yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta, yang dihadiri oleh Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, ST, bersama 500-an kepala daerah dari seluruh Indonesia di salah satu hotel di Jakarta, Senin (4/8/2025).
Di bawah kepemimpinan Menteri Hanif Faisol Nurofiq, program Adipura mengalami transformasi menyeluruh. Tak ada lagi sekadar taman rapi atau jalan bersih untuk memoles citra kota. Penilaian kini menyasar hal-hal mendasar: mulai dari kualitas tempat pembuangan akhir (TPA), manajemen anggaran lingkungan, hingga seberapa kuat partisipasi masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah dari rumah.
“Adipura bukan lagi soal medali, tapi soal integritas tata kelola lingkungan. Kota yang lalai akan dicap sebagai Kota Kotor, dan itu diumumkan ke publik,” ujar Menteri Hanif dengan nada tegas.
Penilaian Adipura kini dibagi ke dalam tiga indikator utama:
• Pengelolaan Sampah dan Kebersihan (50%)
Fokus pada pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, dan daur ulang.
• Anggaran dan Kebijakan (20%)
Daerah wajib mengalokasikan minimal 3% dari APBD untuk sektor persampahan.
• SDM dan Infrastruktur (30%)
Termasuk penerapan sanitary landfill, pengolahan lindi, dan pemanfaatan gas metan.
Kebijakan ini juga secara eksplisit menolak keberadaan TPA open dumping—siapa pun yang masih mengoperasikannya otomatis gugur dari penilaian.
Konawe di Persimpangan Jalan
Bupati Konawe, Yusran Akbar, menyambut sistem penilaian baru ini sebagai tantangan yang harus dijawab dengan aksi nyata, bukan sekadar slogan.
“Kami tidak ingin hanya ikut lomba. Ini soal tanggung jawab jangka panjang. Kami akan benahi TPA, perkuat peran masyarakat, dan dorong penggunaan teknologi ramah lingkungan,” ujar Yusran.
Selama ini, Konawe dikenal konsisten dalam program kebersihan, dengan tiga penghargaan Adipura yang pernah diraih. Namun di bawah sistem baru, tantangannya jauh lebih kompleks. Penilaian lapangan kini menggunakan teknologi satelit, drone, hingga survei udara. Tak ada lagi ruang manipulasi data atau pencitraan sesaat. Meski demikian, ia optimis Konawe bisa meraih Adipura yang keempat pada momen ini.
Roadmap Penilaian Adipura Baru
• Juli 2025: Sosialisasi dan pengarahan teknis
• Agustus–Oktober 2025: Pendampingan ke daerah
• November 2025–Januari 2026: Penilaian berbasis teknologi
• Februari 2026: Pengumuman hasil secara terbuka
Program ini juga berkaitan langsung dengan revisi Perpres No. 35/2018, yang mendorong percepatan pembangunan Instalasi Pengolahan Sampah menjadi Energi (PSEL) dan mendukung ekonomi sirkular.
Ujian Kolektif, Bukan Sekadar Pemerintah
Keberhasilan Adipura tidak mungkin diraih jika hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat punya peran vital: memilah sampah, menjaga kebersihan lingkungan, mendukung bank sampah, hingga melaporkan pembuangan liar.
Kini, Adipura bukan lagi simbol kota cantik, melainkan tolok ukur kota yang mampu bertahan menghadapi krisis lingkungan secara berkelanjutan.
Laporan: Mas Jaya















