Konawe Catat Harga Kebutuhan Pokok Terendah se-Sultra Delapan Bulan Terakhir

Bupati Konawe, Yusran Akbar.

Konawe, idealita.id – Prestasi gemilang kembali diraih Kabupaten Konawe di bawah kepemimpinan Bupati H. Yusran Akbar, ST. Sepanjang delapan bulan pertama tahun 2026—mulai Januari hingga Agustus—Konawe secara konsisten mempertahankan predikat sebagai daerah dengan tingkat inflasi tahunan (year-on-year) terendah di seluruh Provinsi Sulawesi Tenggara.

Capaian ini bukan kebetulan, melainkan buah dari sinergi taktis, komitmen kolektif, serta eksekusi cepat berbagai kebijakan pengendalian harga di tingkat tapak.

Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, ST, menegaskan bahwa rendahnya angka inflasi di Konawe adalah hasil implementasi empat pilar strategi yang berjalan simultan. “Pengendalian inflasi adalah kerja kolaborasi yang harus terus kita jaga. Ini prestasi bersama seluruh elemen daerah,” ujarnya di Unaaha, Rabu (2/9/2026).

Kilas Balik: Dominasi Konawe dari Bulan ke Bulan

Data BPS menunjukkan dominasi Konawe dalam delapan bulan terakhir sungguh luar biasa:

Januari 2026: Inflasi Konawe 3,79%—terendah, sementara rata-rata Sultra 5,10%

Februari 2026: 3,57% (terendah) vs rata-rata Sultra 5,41%

Maret 2026: 1,81% (terendah) vs rata-rata Sultra 3,37%

April 2026: 1,61% (terendah) vs rata-rata Sultra 2,98%

Mei 2026: 2,59% (terendah) vs rata-rata Sultra 4,07%

Juni 2026: 2,12% (terendah) vs rata-rata Sultra 4,68%

Juli 2026: 1,49% (terendah) vs rata-rata Sultra 3,43%

Agustus 2026: 2,48% (terendah) vs rata-rata Sultra 3,35%

Puncaknya terjadi pada Juli 2026, ketika Konawe mencatat inflasi hanya 1,49 persen, jauh di bawah rata-rata provinsi yang mencapai 3,43 persen, bahkan di bawah rata-rata nasional 2,88 persen. Angka ini merupakan yang terendah kedua secara nasional.

Agustus 2026: Deflasi di Tengah Tekanan Inflasi

Pada Agustus 2026, BPS mencatat inflasi year-on-year Konawe sebesar 2,48 persen dengan IHK 113,90. Secara bulanan, Konawe justru mengalami deflasi 0,44 persen (month-to-month), sementara inflasi tahun kalender tercatat 3,88 persen.

Angka inflasi tahunan Konawe melambat signifikan dibanding Agustus 2025 yang mencapai 4,97 persen, menunjukkan keberhasilan kebijakan pengendalian harga di daerah.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar dengan andil 0,76 persen, diikuti kelompok makanan-minuman (0,41 persen) dan perlengkapan rumah tangga (0,40 persen).

Komoditas penyumbang inflasi terbesar antara lain:

Minyak goreng (0,37 persen)

Sigaret Kretek Mesin/SKM (0,30 persen)

Pelumas/oli mesin (0,27 persen)

Bensin (0,22 persen)

Sementara deflasi bulanan didorong penurunan harga kangkung, tomat, ikan gabus, dan bayam yang menjadi komoditas andil terbesar.

Empat Pilar Strategi Jitu Bupati Yusran

Keberhasilan mempertahankan inflasi terendah selama delapan bulan berturut-turut tidak lepas dari empat pilar strategi yang dijalankan secara simultan:

Menjaga Ketersediaan Bahan Pokok – Pemkab Konawe mengawal siklus panen setiap komoditas, menjamin keandalan irigasi pertanian, dan menyalurkan subsidi transportasi untuk komoditas dari luar daerah seperti bawang merah dan bawang putih.

Menggerakkan Ekonomi Lokal – Mengoptimalkan peran UMKM dan menyelenggarakan event strategis berskala daerah maupun regional untuk menghidupkan transaksi riil di pasar.

Koordinasi Lintas Sektor – Menjalin komunikasi solid dengan Perum Bulog, asosiasi pelaku usaha, distributor besar, dan instansi terkait untuk memantau rantai pasok dan mencegah penimbunan.

Komitmen Bersama – Sinergi seluruh elemen, mulai dari birokrasi, swasta, petani, pedagang, hingga masyarakat, untuk menyatukan langkah demi ketahanan ekonomi Konawe.

Perbandingan Inflasi Se-Sulawesi Tenggara

Berdasarkan data BPS, tingkat inflasi tahunan Agustus 2026 tertinggi di Sultra terjadi di Kota Kendari sebesar 3,66 persen. Disusul Kabupaten Kolaka 3,60 persen, Provinsi Sultra secara keseluruhan 3,35 persen, dan Kota Baubau 3,12 persen.

Kabupaten Konawe kembali mencatatkan inflasi terendah di antara seluruh kabupaten/kota se-Sultra dengan 2,48 persen, sekaligus memperpanjang rekor konsistensinya selama delapan bulan berturut-turut.

Sementara inflasi bulanan, seluruh wilayah di Sultra mengalami deflasi, dengan Konawe mencatat deflasi tertinggi ke-2 sebesar 0,44 persen.

Adapun inflasi tahun kalender (y-to-d) Agustus 2026:

Kabupaten Kolaka: 4,37 persen

Kota Baubau: 4,25 persen

Provinsi Sultra: 4,02 persen

Kabupaten Konawe: 3,88 persen

Kota Kendari: 3,84 persen

Dampak Nyata: Pangan Melimpah, Daya Beli Terjaga

Keefektifan strategi Bupati Konawe terlihat nyata pada stabilitas kelompok bahan pangan. Pada Juli 2026, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mencatat deflasi tahunan -0,65 persen. Tren positif berlanjut pada Agustus 2026 dengan deflasi bulanan kelompok makanan mencapai -1,66 persen (andil deflasi -0,73 persen) berkat melimpahnya stok pangan lokal hasil panen yang terjaga di pasar-pasar Konawe.

Bupati Yusran menegaskan, Konawe terus memperkuat posisinya sebagai daerah penyangga pangan nasional dengan pasokan beras yang turut memenuhi kebutuhan wilayah lain di Indonesia.

Dengan fondasi ekonomi paruh pertama 2026 yang kokoh, Kabupaten Konawe tidak hanya melindungi kesejahteraan dan daya beli masyarakatnya, tetapi juga memantapkan posisinya sebagai daerah dengan manajemen pengendalian inflasi terbaik di Sulawesi Tenggara. (red)

Artikulli paraprakBupati Konawe Pastikan Respons Cepat Pemerintah Atasi Karhutla