H-3 Pameran Inovasi Daerah: Stan Pameran Dikebut, Bupati Konawe Pantau Langsung

Konawe, idealita.id — Tiga hari menjelang pembukaan, Bupati Konawe, Yusran Akbar tidak ingin melihat gelaran berskala besar ini berjalan setengah hati. Minggu (8/11/2026), ia turun langsung meninjau lokasi Pekan Inovasi Daerah Kabupaten Konawe 2026 di eks MTQ Unaaha. Di tengah terik dan aktivitas pekerja yang tengah merangkai panggung serta stan dari kayu dan bambu, Bupati memastikan satu hal,  seluruh persiapan harus tuntas, tanpa alasan, dan tanpa kompromi.

Pekan Inovasi Daerah kali ini bukan pameran biasa. Mengusung tema “Inovasi Daerah untuk Negeriku, Konawe Bersahaja,” kegiatan yang dijadwalkan berlangsung 11–21 November 2026 ini diikuti sedikitnya 436 peserta. Mereka berasal dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), 28 kecamatan, 57 kelurahan, 291 desa, instansi vertikal, perusahaan swasta, hingga pelaku UMKM se-Kabupaten Konawe.

Bagi Bupati Yusran Akbar, angka itu bukan sekadar statistik. Ia menegaskan, setiap peserta wajib menampilkan inovasi unggulan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, bukan sekadar replika program yang sudah usang.

“Setiap OPD harus memastikan materi, inovasi, dan program yang akan ditampilkan benar-benar siap untuk diketahui dan dinilai masyarakat. Jangan menganggap ini agenda biasa,” tegas Bupati saat meninjau lokasi.

Peninjauan H-3 ini menjadi sinyal kuat bahwa Bupati tidak ingin ada “kejutan” di hari pembukaan. Ia meminta seluruh perangkat daerah bergerak bersama, membagi peran sesuai tugas dan fungsi, serta tidak menunggu hingga hari pelaksanaan untuk menyelesaikan pekerjaan. Instruksi itu lahir dari kesadaran bahwa ekspo ini diproyeksikan menjadi etalase Kabupaten Konawe — panggung untuk memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya membangun, tetapi juga berinovasi secara nyata.

Yang menarik, Pekan Inovasi kali ini tidak hanya milik birokrasi. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) diberi ruang signifikan untuk unjuk gigi. Kehadiran mereka bukan pelengkap. Bagi Bupati Yusran, UMKM adalah bagian dari ekosistem inovasi yang harus tumbuh seiring dengan terobosan tata kelola pemerintahan.

Melalui pameran ini, UMKM Konawe mendapatkan akses langsung untuk memperkenalkan produk unggulan lokal kepada masyarakat luas, sekaligus membuka jaringan pasar baru.

Dalam konteks “Konawe Bersahaja” — visi pembangunan yang menekankan daya saing, kesejahteraan, keadilan, dan keberlanjutan — UMKM berperan sebagai penopang ekonomi kerakyatan yang tidak bisa diabaikan.

Pemerintah daerah pun mendorong agar inovasi yang dipamerkan, baik dari OPD maupun UMKM, tidak berhenti di atas panggung, tetapi berlanjut menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat.

Pekan Inovasi Daerah 2026 bukan sekadar ajang unjuk kreativitas. Ia adalah implementasi dari Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah, yang mewajibkan setiap daerah membangun budaya inovasi di lingkungan pemerintahan.

Tujuan utamanya jelas. Mempublikasikan terobosan tata kelola, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan mendorong kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat.

Sasaran spesifiknya, setiap peserta — mulai dari OPD hingga desa — diwajibkan menyiapkan minimal satu inovasi unggulan, baik berbasis digital maupun nondigital, yang telah atau sedang diterapkan di wilayah masing-masing.

Panitia bahkan telah menyiapkan sistem penilaian ketat dengan substansi inovasi (40%), presentasi dan edukasi (30%), visual dan kreativitas stan (20%), serta interaktivitas dengan pengunjung (10%). Ini bukan panggung basa-basi. Ini adalah ujian terbuka bagi kinerja pemerintah dan kreativitas pelaku usaha.

Dengan waktu yang tersisa tiga hari, tekanan kini berada di pundak seluruh peserta. Bupati Yusran telah memberi peringatan dini. Konawe tidak butuh pameran yang meriah tetapi kosong. Konawe butuh bukti bahwa inovasi benar-benar bekerja — dan UMKM adalah bagian tak terpisahkan dari bukti itu. (red)

Artikulli paraprakGemarasa Menggema, Lastra Fest 2026 Suguhkan Pentas Seni Memukau di UHO