IDEALITA.ID: KONAWE – Napas inovasi desa kini kian menggeliat di Konawe. Pameran Inovasi Desa 2025 yang digelar bukan sekadar seremonial, tapi ajang unjuk gigi dan kolaborasi 291 desa se-Kabupaten Konawe.
Panggung Identitas Konawe
Panggung utama malam itu berubah menjadi ruang sakral tempat identitas Konawe dipertaruhkan. Tarian Mombatani dari Kecamatan Abuki tak sekadar ditampilkan, melainkan dihidupkan. Setiap gerakan para penari seolah menjadi kalimat dalam kisah agung tentang siklus hidup agraris.
“Ini lebih dari sekadar tarian,” ujar seorang sesepuh desa dengan mata berkaca-kaca di pinggir panggung. “Ini adalah memoar leluhur kami yang dikodekan dalam gerak—sebuah ensiklopedia hidup yang kini dibuka kembali untuk dunia.”
Sementara itu, Tari Sumaku dari Meluhu tampil sebagai deklarasi ketahanan pangan lokal. Proses pengolahan sagu yang biasanya tersembunyi di dapur dan kebun, diangkat ke panggung dengan penuh kebanggaan.
“Kami ingin setiap tahap, dari menebang pohon hingga menjadi pangan, bisa dimaknai,” tutur seorang koreografer lokal. “Pesan kami sederhana: kami mandiri, kami berdaulat, dan kami bangga pada warisan kami.”
Blusukan Sang Bupati
Namun, di balik sorotan lampu dan tepuk tangan penonton, peristiwa yang lebih penting tengah berlangsung. Bupati Yusran tidak datang sebagai tamu kehormatan yang hanya duduk di barisan depan. Ia datang sebagai “auditor budaya dan pembangunan”, menyusuri setiap stan dengan langkah pasti dan tatapan penuh analisis.
Di Stan Desa Puumbinisi, sebuah dialog bersejarah terjadi. Bupati tidak hanya berjabat tangan dan tersenyum; ia duduk, mendengar, dan bertanya tajam.
“Saya tidak ingin hanya melihat produk yang bagus,” ujarnya dalam percakapan dengan tim media. “Saya ingin memastikan bahwa di balik produk itu ada sistem tata kelola yang kuat, BUMDes yang sehat, koperasi yang berdenyut, dan yang terpenting, pemerintahan desa yang bersih dan melayani,” tandasnya.
















