Petani Konawe Meradang, Mitra Bulog Beli Gabah Harga Murah

Aktivitas petani saat memanen padinya. (foto: istimewa)

IDEALITA.ID: KONAWE – Sejumlah petani di Konawe kini meradang. Harapan mereka untuk mendapatkan harga gabah yang layak sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP), Rp6500 per kilogram (kg) tampak sirna. Pembeli gabah yang mengaku mitra Bulog justru hanya menawarkan harga Rp6200 hingga Rp5700.

Keluhan datang dari warga Kecamatan Tongauna Utara, khususnya di wilayah SPA Lalonggowuna dan Waworoda. Mereka menyebut praktik pembelian di bawah HPP itu sudah berlangsung sejak awal Oktober.

“Harga gabah turun sejak tanggal 5 Oktober, dari Rp6.500 jadi Rp6.200, sekarang tinggal Rp6.000,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Senin (7/10/2025).

Menurut warga, pihak yang membeli gabah tersebut adalah swasta yang mengaku sebagai mitra Bulog. Gabah petani dibeli dengan harga murah, kemudian dijual kembali ke Bulog atau pihak lain dengan selisih keuntungan tertentu.

“Katanya harga turun karena Bulog belum bayar gabah petani, jadi mitranya juga tidak punya dana,” keluh salah satu petani di Tongauna Utara.

Petani berinisial M menuturkan, gabah miliknya sebanyak sembilan ton yang disalurkan melalui mitra Bulog hingga kini belum dibayar. Kondisi serupa juga dialami banyak petani lainnya di daerah itu.

“Bulog belum membayarkan gabah yang sudah kami setor lewat mitranya. Punya saya saja sembilan ton, sementara petani lain juga banyak yang belum dibayar. Kami mulai panen sejak 26 September,” ujar M.

Para petani berharap pemerintah pusat segera menyalurkan dana ke daerah agar mitra Bulog bisa melunasi pembayaran dan mencegah tengkulak menekan harga.

“Kalau pembayaran lancar, harga gabah pasti stabil. Sekarang ini alasannya selalu sama: Bulog belum transfer ke mitra,” tambah warga tersebut.

Kondisi yang lebih parah lagi dialami petani di Desa Padangguni Utama, Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe. Kades setempat, Arman langsung sikapi keluhan petani di desanya, terkait anjloknya harga gabah yang dibeli mitra Bulog sebesar Rp5.700 per kilogram.

Akibat anjloknya harga gabah kering itu, sejumlah warganya batal melakukan panen akibat harga dianggap tidak sesuai dari harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar 6.500 per kilogram.

“Banyak warga yang menunda panen karena harga yang ditawarkan terlalu rendah. Mereka khawatir rugi karena biaya produksi tinggi,” ungkap Arman, saat dihubungi,  Senin 13/10/2025.

Melihat kondisi itu, Arman mengambil inisiatif untuk mencari pembeli gabah lain di luar desa, bahkan ke kecamatan lain, dengan harapan ada mitra bolog atau pihak swasta yang mau membeli gabah dengan harga kompetitif dari HPP. (mj)

Artikulli paraprakKenalkan: Wajah Baru Pengurus JMSI Sultra 2025-2030
Artikulli tjetërBupati Konawe Ajak Petani Satu Suara Atur Air dan Pola Tanam