IDEALITA.ID: KONAWE – Hujan biasanya merupakan pertanda berkah, tetapi kadang juga bisa jadi bencana. Kondisi itulah yang terjadi di Desa Anggalomoare Jaya dan Desa Anggalomoare, Kecamatan Anggalomoare, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Dua desa di Kecamatan Anggalomoare itu kerap jadi langganan banjir. Meski dengan intensitas hujan yang tak begitu tinggi, banjir masih saja terjadi, menggenani jalan poros, bahkan rumah warga.
Lalu, bagaimana respon pemerintah setempat terkait kondisi tersebut?
Camat Anggalomoare, Rasmin Suleman Alaska, sejak dilantik 22 November 2022 lalu, ternyata tak berpangku tangan dengan keadaan itu. Berbagai upaya terus dilakukan dalam penanggulangan banjir tersebut.

Dalam perjalanannya, Rasmin menemukan sumber bencana yang berasal dari limpahan air dari perkebunan sawit milik PT Harlitama Agri Makmur (HAM) di Desa Puuloro dan Bondoala. Air datang tanpa bisa dicegah, membawa serta penderitaan yang terus berulang.
Ia pernah bersurat kepada pihak perusahaan. Pertemuan demi pertemuan digelar. Hasilnya? Sebuah janji—pembangunan bendungan mini. Tapi belum selesai satu harapan terbentuk, harapan lain sudah terhempas. Usulan normalisasi kali 500 meter ditolak warga yang takut volume air justru akan meningkat dan memperparah banjir.
Tak putus asa, Rusmin melangkah lebih jauh. Ia mengetuk pintu Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sultra dan Balai Wilayah Sungai (BWS). Respons datang, tapi seperti angin lalu. BPJN hanya mengirim tim untuk membersihkan lumpur dan sampah dengan alat manual—jauh dari cukup untuk masalah sebesar ini.
Dalam setiap rapat koordinasi kabupaten, suara Rusmin tak pernah absen membahas soal banjir. Ia menjadikan penderitaan warganya sebagai agenda utama. Namun, harapan yang dijanjikan BPJN untuk memperluas drainase pada 2024 masih belum juga terlihat wujudnya.
“Mereka hanya datang saat banjir untuk ambil dokumentasi. Janjinya tahun 2024 drainase akan diperlebar, tapi sampai sekarang belum ada apa-apa,” keluhnya.
Meski janji hanya tinggal janji, Rusmin tak menyerah. Setiap genangan baru, ia hadir. Bukan sekadar memantau, tapi menyemangati warganya. Peluh dan waktu ia curahkan, bukan untuk pencitraan, tetapi karena ia tahu: kehadiran adalah bentuk paling nyata dari kepedulian.
Kisah Camat Rusmin adalah potret langka dari seorang pemimpin yang tak menunggu solusi, tapi menciptakan harapan. Namun ia juga manusia, yang perjuangannya akan selalu terhambat jika berjalan sendiri. (mj)
















