Konawe, idealita.id – Konawe semakin dilirik sebagai daerah tujuan investasi di Sulawesi Tenggara. Hal itu mengemuka dalam “Konawe Investment Business Forum 2026” yang digagas Pemerintah Kabupaten Konawe bersama Kadin Sulawesi Tenggara dan BPR Bahtermas, Rabu (13/5/2026).
Forum yang awalnya dikemas sebagai diskusi santai tersebut berkembang menjadi agenda strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan ekonomi, pengusaha, perbankan, hingga calon investor di Bumi Anoa.
Kegiatan yang dipandu Direktur BPR Bahtermas, Ahmat, itu turut dihadiri jajaran komisaris BPR Bahtermas, Wakil Ketua Kadin Sultra Sastra Alamsyah, Ketua Kadin Konawe Selatan, Ketua Kadin Kota Kendari Fadli, perwakilan Kadin Kolaka, serta sejumlah anggota Kadin Konawe.
Dalam sambutannya, Ahmat mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya forum tersebut. Ia menjelaskan, BPR Bahtermas merupakan satu dari 12 BPR yang dibentuk oleh gubernur dan para bupati di Sultra. Sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seluruh BPR itu nantinya akan dilebur menjadi satu entitas pada 2027.
“BPR Bahtermas akan menjadi Bank Daerah Sultra (BDS), dengan kantor pusat di Kendari atau Konawe. Aset kami saat ini hampir Rp500 miliar. Konawe menyumbang sekitar 27 persen atau Rp145 miliar, sementara penyaluran kredit di Konawe mencapai Rp116 miliar atau sekitar 29 persen,” ujar Ahmat.
Ia mengibaratkan BPR Bahtermas sebagai pesawat ATR yang mampu menjangkau daerah-daerah khusus, melengkapi peran Bank Sultra sebagai pesawat Boeing. Pasca-merger nanti, target aset Bank Daerah Sultra ditetapkan mencapai Rp1 triliun.
“Mimpi kami membangun gedung BPR di Kendari dan Konawe, termasuk kawasan Bundaran Tugu Kalosara di Konawe. Kami berharap pemerintah daerah dapat membeli saham BPR Bahtermas Konawe agar peran kami dalam menggerakkan ekonomi daerah semakin besar,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Investasi Kadin Sultra, Sastra Alamsyah, memberikan apresiasi kepada Bupati Konawe, Yusran Akbar, atas kepemimpinannya yang dinilai mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif.
“Para pengusaha merasa nyaman berinvestasi di Konawe. Sejumlah investasi sudah mulai masuk, mulai dari pabrik penggilingan beras, perumahan, hingga pabrik susu sari kedelai. Bahkan ada rencana pengembangan penanaman kedelai lokal di Konawe,” katanya.
Sastra juga mengungkapkan bahwa Kadin Indonesia berencana membawa investor ke Konawe pada bulan depan. Nilai investasi yang diproyeksikan mencapai triliunan rupiah dan akan menyasar sektor industri, infrastruktur, perhotelan, pertanian, peternakan, hingga kelautan.
Ia pun mendorong para pengusaha untuk membuka rekening di bank lokal, khususnya BPR Bahtermas, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekonomi daerah.
“Target utama kami adalah menciptakan kenyamanan bagi investor dari luar daerah maupun pengusaha lokal agar sama-sama berkembang di Konawe,” tegasnya.
Dalam sambutannya sekaligus membuka forum, Bupati Konawe, Yusran Akbar, menegaskan bahwa investasi merupakan kunci utama pertumbuhan ekonomi daerah.
“Investasi menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, meningkatkan pendapatan daerah melalui pajak dan transaksi ekonomi lokal. Pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan dana transfer dari pusat,” ujar Yusran.
Ia memaparkan tiga sektor unggulan yang menjadi kekuatan Konawe, yakni industri, pariwisata, dan pertanian.
Di sektor industri, Konawe ditopang potensi nikel serta aktivitas pabrik di Morosi dan Routa yang menjadi sumber pendapatan daerah untuk pembangunan infrastruktur.
Pada sektor pariwisata, pemerintah daerah berencana mengembangkan food court bagi UMKM dan taman bermain guna meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Sementara di sektor pertanian, Konawe memiliki sekitar 40 ribu hektare lahan potensial untuk persawahan dan perkebunan, termasuk 36 ribu hektare sawah produktif. Kawasan itu juga didukung Bendung Wawotobi yang mampu mengairi sekitar 18 ribu hektare sawah dan Bendungan Ameroro sekitar 3.600 hektare areal pertanian.
“Konawe sangat cocok untuk pengembangan tanaman palawija seperti kedelai,” jelasnya.
Yusran juga menyinggung kondisi banjir yang melanda sejumlah wilayah di Konawe. Ia memastikan penanganan dilakukan secara masif oleh tim percepatan yang dipimpin Sekda Konawe bersama BPBD dan OPD teknis terkait.
“Kepala daerah harus bersikap welcome terhadap pengusaha. Kadin diharapkan menjadi fasilitator yang mampu menghubungkan petani, UMKM, perbankan, pemerintah, hingga pasar,” pungkasnya.
Forum tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk menindaklanjuti rencana investasi dan penguatan sektor perbankan daerah demi mewujudkan Konawe Bersahaja. (red)
















