
TRIBUN KONAWE: UNAAHA – Kabupaten Konawe tampil gemilang di kancah nasional. Daerah yang dikenal sebagai lumbung beras Sulawesi Tenggara (Sultra) itu, masuk dalam jajaran 7 besar daerah dengan realisasi investasi terbesar di Indonesia tahun 2021.
Prestasi tersebut tentu tak lepas dari peran gemilang seorang Bupati, Kery Saiful Konggoasa. Dari tangan emasnya itulah, Konawe mampu unjuk gigi dan berdiri sejajar dengan daerah-daerah maju Indonesia lainnya di Indonesia.
Beberapa tahun belakangan, investasi Konawe memang tengah melaju gila-gilaan. Nilainya bahkan bukan diangka puluhan atau ratusan miliar. Akan tetapi triliunan, bahkan puluhan triliun.

Pada tahun 2021, total realisasi investasi Sultra tahun 2021 mencapai Rp27,932 Triliun (T). Sebanyak Rp23,6 T dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Rp4,334 T dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PDMN). Dari jumlah tersebut realisasi Konawelah yang terbesar. Nilainya mencapai Rp20,056 triliun dan berasal dari dua perusahaan penyokong, yakni PT VDNI dan PT OSS.
Capaian itu membuat seorang KSK menjadi buah bibir. Ia bahkan digadang-gadang sebagai sosok yang layak disebut sebagai “Bapak Investasi Sultra.” Setidaknya, ada beberapa alasan yang membuat KSK layak dengan sapaan itu.

Pertama, Konawe berhasil mendapat penghargaan dari Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Penghargaan itu diberikan bersama 10 daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Indonesia tahun 2021, Selasa (16/2/2021).
Kedua, realisasi investasi Konawe berada pada peringkat 7 besar Indonesia dengan nilai investasi Rp20,056 T. Konawe duduk di atas Kota Balikpapan (Rp19.6 T), Cilegon (Rp17,8 T) dan Kabupaten Gresik (Rp16,76 T) yang masing-masing berada pada peringkat 8, 9 dan 10.
Ketiga, investasi Rp20,056 T Konawe 2021 tersebut ternyata setara dengan 14 tahun APBD Konawe, dengan hitungan berdasarkan ABPD 2022 senilai Rp1,4 T. Artinya, investasi Konawe dalam satu tahun sama dengan hampir tiga periode masa jabatan seorang bupati. KSK telah melakukan lombatan quantum dengan masuknya investasi besar-besaran itu.
Keempat, investasi Rp20,056 T tersebut juga setara dengan 5 tahun ABPD Sultra dengan hitungan ABPD Sultra 2022 senilai Rp3,838 T. Artinya, investasi itu sama dengan satu periode masa jabatan pemerintahan seorang gubernur. Hebatnya, dana sebesar itu hanya dihasilkan dalam jangka waktu satu tahun (2021) di Kabupaten Konawe.
Kelima, sejak 2018 hingga 2021, investasi yang tercatat masuk di Konawe sudah lebih Rp60 T. Padahal target pemerintahan KSK periode kedua (2018-2023) hanya sampai Rp50 T. Artinya, target investasi selama satu periode pemerintahan KSK telah melampaui target.
Keenam, hanya KSK yang mampu melakukannya. Investasi besar yang masuk di Konawe hari ini adalah sebuah perjalanan panjang, usaha dan upaya yang dilakukan seorang KSK. Ia mampu meyakinkan investor Tiongkok untuk berinvestasi di Konawe sejak 2014 silam. Ia tidak memberikan syarat yang ribet kepada investor. KSK hanya berprinsip, silahkan masuk dan taati prosedur. Urusan pajak nanti setelah perusahaan beroperasi. Lalu, terbangunlah mega industri pengolahan nikel di Kecamatan Morosi, yakni PT VDNI dan PT OSS. Dua raksasa asal Tiongkok itu hingga saat ini telah mempekerjakan sebanyak 25 ribu karyawan lokal, bahkan menarget dapat mempekerjakan hingga 60 ribu karyawan.
Ketujuh, target realisasi investasi tahun 2022 yang direncanakan KSK bakal lebih fantastis lagi. Untuk pabrik hilirisasi pengolahan dari PT VDNI dan OSS, setidaknya kata KSK ada sekira Rp32 T. Menurutnya, nilai itu masih bisa bertumbuh.
Selain itu, ada juga target investasi puluhan triliun lainnya yang akan dilakukan di Kecamatan Routa. Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) rencananya bakal membuka mega industri pengolahan nikel yang sama dengan di Morosi dengan nilai investasi sekira Rp56 T.
“Tahun ini sudah akan mulai jalan. Nilainya ada Rp56 T, jalas KSK usai menggelar konferensi pers terkait penghargaan yang ia terima dari Kementerian Investasi/BKPM, Kamis (17/2/2022).
Bupati dua periode itu menerangkan, investasi Rp32 T dari pembangunan pabrik pengolahan nikel menjadi barang jadi akan kembali membuka lapangan kerja baru. Begitupun dengan investasi Rp56 T yang ada di Routa. Jumlah tenaga kerja yang bakal terserap nantinya akan sangat besar.
“SCM mau berinvestasi Rp56 T. Saat ini lagi urus RTRW. Kalau sudah selesai urusan administrasi, mereka akan mulai membangun,” pungkasnya.
Laporan: Mas Jaya















