Cuma Dapat Debu: Pemuda Sampara Raya Tolak Aktivitas Hauling di Jalan Umum

Golongan pemuda yang tergabung dalam Forum Muda Sampara Raya sepakat untuk menolak penggunaan jalan umum sebagai dalam aktivitas hauling dua perusahaan tambang nikel di Konawe.

IDEALITA.ID: KONAWE – Di jantung Sampara Raya, gelombang penolakan mulai aktivitas penggunaan jalan umum untuk jalur hauling perusahaan tambang PT MCM dan PT ST Nickel, kian menguat. Adalah Forum Muda Sampara Raya (FMSR) berdiri dan bersuara lantang: tolak.

Bukan sekadar protes, ini adalah perlawanan. Perlawanan terhadap dua perusahaan yang katanya punya backingan kuat. Betapa tidak, jalan poros yang jadi nadi kehidupan, kini seolah menjadi “lintasan maut” saat gerombolan truk pemuat ore nikel itu melintas.

“Kami lelah dengan kebisingan yang terus menghantui siang malam. Debu masuk ke rumah, anak-anak batuk, orang tua sakit. Ini bukan sekadar gangguan—ini ancaman,” ungkap seorang perwakilan FMSR dengan nada geram.

Keluhan tak berhenti pada polusi suara dan udara. Warga juga menyoroti dugaan pelanggaran batas muatan truk yang melintasi jalan tersebut. Infrastruktur jalan yang tidak dirancang untuk beban berat perlahan rusak, menciptakan lubang dan retakan yang bisa berujung pada kecelakaan dan kerugian ekonomi.

Kekhawatiran warga bukan tanpa dasar. Jalan-jalan di Sampara dan Anggalomoare adalah jalur vital penghubung desa, pasar, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Bila rusak parah, kehidupan masyarakat akan lumpuh.

Forum Muda Sampara Raya menuntut perusahaan segera mencari jalur hauling alternatif yang tidak melintasi kawasan padat penduduk. Mereka juga mendesak pemerintah daerah agar tidak tinggal diam dan segera turun tangan memediasi persoalan ini secara terbuka.

“Kami tidak menolak investasi. Tapi investasi harus manusiawi, harus berwawasan lingkungan. Jangan jadikan kenyamanan dan kesehatan warga sebagai tumbal keuntungan,” tegas perwakilan FMSR.

Dukungan pun terus mengalir. Dari sembilan desa dan kelurahan di Kecamatan Sampara, hingga enam wilayah di Kecamatan Anggalomoare yang terdampak langsung. Mereka bersatu dalam keresahan yang sama—dan kini dalam suara yang sama.

Pertemuan perdana FMSR yang digelar pada Sabtu, 31 Mei 2025, di rumah salah satu penggagas, menjadi titik awal perlawanan kolektif ini. (mj)

Artikulli paraprakANTAM dan PWAT Gelar Bakti Sosial di Molawe, Pemerintah Beri Apresiasi
Artikulli tjetërPelantikan MKKS SMP Konawe: Bupati Tantang Kepala Sekolah Jadi Inovator Pendidikan