KONAWE, IDEALITA.ID – Setelah mencatatkan inflasi terendah se-Sultra periode Januari-Juni, Konawe kembali mencatatnya inflasi terendah pada Juli 2026. Hal ini menunjukkan kalau harga kebutuhan pokok di Konawe adalah yang paling stabil se-Sulawesi Tenggara (Sultra).

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Konawe merilis Berita Resmi Statistik yang mencatat inflasi tahunan (year-on-year) di Konawe hanya berada di angka 1,49 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 114,40.
Capaian ini menempatkan Konawe sebagai daerah dengan inflasi terendah di antara lima kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tenggara, jauh di bawah Kabupaten Kolaka (4,57%), Kota Kendari (3,82%), dan Kota Baubau (3,03%).
Meski secara bulanan (month-to-month) terjadi inflasi 0,54 persen yang dipicu oleh kelompok Transportasi dan Perlengkapan Rumah Tangga, BPS mencatat adanya deflasi pada komoditas strategis seperti Tomat, Sawi Hijau, dan Kacang Panjang. Hal ini menunjukkan pasokan bahan pangan dan harga kebutuhan pokok di Konawe tetap aman dan terkendali.
Menanggapi data tersebut, Bupati Konawe, Yusran Akbar, memberikan pernyataan komprehensifnya. Di satu sisi, ia memastikan Pemkab Konawe terus berkomitmen pada target inflasi nasional yang tercatat dikisaran 2,88%.
“Kabupaten Konawe tetap menjaga posisi 2,5+1% sebagai acuan target inflasi nasional. Kami terus menjaga jangan sampai terjadi deflasi yang ekstrem, karena itu bisa merugikan petani dan pelaku usaha di hilir. Intinya, harga bahan-bahan pokok harus terkendali, dan kami terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk memantau pasokan,” tegas Bupati di Unaaha, Selasa (4/8/2026).
Di sisi lain, ia menyoroti data positif dari sektor ril yang turut menyumbang perekonomian daerah.
“Selain inflasi yang terjaga, saya juga bangga dengan capaian PAD kita yang membuktikan daya beli dan aktivitas ekonomi benar-benar membaik. Realisasi pendapatan dari sektor pajak rumah makan dan restoran kita mengalami peningkatan yang sangat signifikan, mencapai 88,2 persen atau senilai Rp11,9 miliar dari target Rp13,5 miliar,” ungkapnya dengan nada optimistis.
Bupati Yusran menjelaskan, lonjakan pendapatan dari sektor kuliner ini adalah indikator nyata bahwa sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Konawe terus berjalan dan tumbuh. “Hal ini juga dipacu oleh adanya sejumlah event dan kegiatan di Konawe yang menyedot animo masyarakat. Event-event ini berkontribusi besar terhadap peningkatan pendapatan masyarakat di sektor UMKM, yang pada akhirnya berimbas pada realisasi penerimaan pajak daerah kita pada semester I Juli 2026. Ini adalah realitas siklus ekonomi yang sehat,” jelasnya.
Dengan sinergi antara pengendalian inflasi yang ketat, koordinasi dengan BI, serta pertumbuhan sektor UMKM yang didorong oleh berbagai kegiatan ekonomi, Bupati Yusran optimistis Konawe akan menutup tahun 2026 dengan stabilitas harga dan pendapatan daerah yang optimal. (red)
















