Kepedulian di Tengah Luka: Kapolres Konawe Sambangi Rumah Duka Korban KKB

Kapolres Konawe, AKBP Noer Alam bersama ibunda korban KKB Papua.

IDEALITA.ID: KONAWE – Desa Puday, Kecamatan Wonggeduku Barat, Kabupaten Konawe, mendadak sunyi dalam duka. Di sebuah rumah sederhana, tangis dan haru berpadu menyambut kedatangan Kapolres Konawe AKBP Noer Alam, S.I.K., bersama Ketua Bhayangkari Cabang Konawe, Ibu Devi Noer Alam. Mereka datang membawa duka cita dan empati yang mendalam untuk keluarga almarhum Yuda Lesmana dan Riki Rahmat -dua pemuda Konawe yangmenjadi korban kebrutalan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Yahukimo, Papua Pegunungan.

Pukul 13.35 WITA, langkah kaki rombongan tiba di pelataran rumah yang kini menjadi saksi bisu kehilangan besar. Ibu Hasnia, ibu kandung korban, berdiri dengan mata sembab menahan tangis. Di sampingnya, paman almarhum yang juga Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, Dr. H. Ardin, S.Sos., M.Si., menyambut kehadiran para tamu yang datang bukan sekadar mengucapkan belasungkawa, tapi juga untuk menguatkan hati yang sedang patah.

Duka begitu terasa. Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan kehilangan seorang ibu atas dua anak laki-lakinya sekaligus. Dalam pelukannya, kenangan tentang Yuda dan Riki seperti hidup kembali—dua pemuda penuh semangat yang kini hanya tinggal nama dan doa.

Kapolres Konawe menyampaikan bahwa pihaknya, bersama TNI, tengah berjuang keras untuk mengevakuasi jenazah kedua almarhum dari lokasi kejadian. Ia juga menyampaikan harapan agar keluarga diberi kekuatan menghadapi musibah besar ini.

“Kami hadir bukan hanya sebagai petugas, tetapi sebagai saudara. Luka ini juga luka kami. Duka ini, adalah duka seluruh masyarakat Konawe,” tutur AKBP Noer Alam dengan suara penuh empati.

Sebagai wujud kepedulian, Kapolres dan Ketua Bhayangkari menyerahkan bantuan sosial kepada keluarga korban. Bantuan yang memang tidak akan mampu menggantikan kehilangan, tapi menjadi bukti bahwa di tengah kepedihan, keluarga tidak sendiri.

Dalam kesempatan yang sama, Ibu Hasnia dengan suara bergetar menyampaikan harapan agar jenazah anak-anaknya bisa segera dipulangkan dan dimakamkan di tanah kelahiran mereka. Sebuah keinginan sederhana yang lahir dari kasih seorang ibu—ingin memeluk anak-anaknya untuk terakhir kali.

Rangkaian kunjungan berakhir pukul 14.00 WITA, namun kehangatan dan haru yang ditinggalkan akan lama membekas. Di tengah luka yang dalam, silaturahmi ini menjadi pelipur lara, sekaligus pengingat bahwa di balik tragedi, selalu ada tangan-tangan yang siap menggenggam dan hati-hati yang turut merasakan. (mj)

Artikulli paraprak141 Desa di Konawe Ikut Bimtek Ketahanan Pangan
Artikulli tjetërBupati Konawe Ungkap Program Cetak Sawah Baru 5000 Hektar Segera Terealisasi